Artikel dari Kategori : Profil

SEKILAS TENTANG KEPEMIMPINAN

Ilpi Zukdi | Jumat, 19 Februari 2016 - 11:13:57 WIB | dibaca: 365 pembaca

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Pembicaraan mengenai kepemimpinan selalu penting dan menarik bagi setiap orang, sebab dalam kenyataannya kelansungan hidup suatu komunitas, bangsa atau negara sangat dipengaruhi oleh para pemimpinnya.

Dalam kajian agama, sebenarnya sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi menyatakan bahwa :

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 Artinya : Setiap kamu pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan dari kepemimpinannya

 Berdasarkan hadits di atas dapat dikatakan bahwa menurut kodrat dan iradatnya bahwa manusia dilahirkan adalah untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan kebumi, ia ditugasi sebagai khalifah fil ardhi sebagaimana disebutkan dalam al-Quran surat al-baqarah ayat 30 :

وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

Artinya :     Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Menurut Bachtiar Surin dalam Maman Ukas mengatakan bahwa perkataan khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu (Maman Ukas, 1999:253). Sebagai penghubung dapat dikatakan bahwa berhasil tidaknya seorang pemimpin banyak tergantung dari keberhasilannya dalam melakukan kegiatan komunikasi. Oleh karena itu dibutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan, dalam adat Minangkabau dikatakan pemimpin adalah : orang yang berimbo laweh bapadang leba. Artinya : ilmu yang banyak serta dituntut kesabaran.

Makalah ini akan membahas tentang batasan kepemimpinan dan sifat-sifat seorang pemimpin.

B.   Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

1. Apa pengertian pemimpin dan kepemimpinan ?

2. Apa saja sifat-sifat kepemimpinan ?

3. Bagaimana implementasi kepemimpinan di Perguruan Muhammadiyah

C.   Tujuan

Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian pemimpin dan kepemimpinan

2. Untuk mengetahui sifat-sifat kepemimpinan

3.  Untuk menggambarkan implementasi kepemimpinan di Perguruan  Muhammadiyah

 BAB II

PEMBAHASAN

A.   Kepemimpinan

1. Pengertian

Menurut Gary Yukl (2009:2) kepemimpinan adalah subyek yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah yang mengkonotasikan citra individual yang kuat dan dinamis yang berhasil memimpin dibidang kemiliteran, memimpin perusahaan atau memimpin negara.

Dari segi istilah Ralp M. Stogdill mengutip Oxford English Dictionary dalam Sunindhia YW dan Ninik Widiyanti (1993:2) mengatakan bahwa perkataan “leader” (pemimpin) muncul pada lebih kurang tahun 1300, yang sebelumnya hanya perkataan “chief” atau “king” yang digunakan, sedangkan istilah “leadership” (kepemimpinan) baru muncul sekitar tahun 1800.

Apakah sebenarnya yang diartikan dengan kepemimpinan itu ?. Tidaklah terlalu mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena pengertian kepemimpinan masih harus dikembangkan oleh para ahli pemikir. Menurut Gary Yukl (2009:3) istilah  kepemimpinan merupakan kata yang diambil dari kata-kata yang umum dipakai dan gabungan dari kata ilmiah tetapi tidak didefinisikan secara tepat, sehingga mempunyai arti yang mendua (Janda, 1990 dalam Gary Yukl, 2009:3). Disamping itu juga ada hal-hal yang membingungkan karena adanya penggunaan istilah-istilah lain seperti kekuasaan, wewenang, manajemen, administrasi, pengendalian, dan supervisi yang juga menjelaskan hal yang sama dengan kepemimpinan. Oleh karena itulah Bennis (dalam Gary Yukl, 2009:3) berdasarkan observasinya berpendapat : “ Sepertinya konsep kepemimpinan selalu kabur atau kembali menjadi tidak jelas karena artinya yang kompleks dan mendua. Jadi kita harus berjanji untuk menemukan dan menghentikan perkembangan istilah kepemimpinan … tetapi tetap saja konsep ini tidak ada yang tuntas mendefinisikan”.

Stogdill (1974:259 dalam Gary Yukl,2009:3) setelah melakukan telaah mendalam terhadap literatur kepemimpinan menyimpulkan bahwa : “ terdapat banyak definisi kepemimpinan yang banyaknya sama dengan jumlah orang yang mendefinisikan konsep ini”. Setelah Stogdill melakukan observasi maka definisi kepemimpinan didasarkan kepada ciri-ciri, perilaku, pengaruh, pola interaksi, hubungan peran, dan posisi jabatan administratif. Beberapa definisi yang diangga representatif  selama 50 tahun terakhir dikemukakan oleh Stogdill sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan adalah perilaku individu…yang mengarahkan aktifitas kelomok untuk mencapai sasaran bersama (Hemphill & Coons, 1957:7)
  2. Kepemimpinan adalah : pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin (D. Katz & Kahn, 1978:528).
  3. Kepemimpinan dilaksanakan ketika seseorang… memobilisasi… sumber daya institusional, politis, psiologis, dan sumber-sumber lainnya untuk membangkitkan, melibatkan dan memenuhi motivasi pengikutnya (Burns, 1978:18).
  4. Kepemimpinan adalah :”Proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran (Rauch & Behling, 1984: 6)
  5. Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan (Jacobs & Jaques, 1990:281)
  6. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk bertindak di luar budaya … untuk memulai proses perubahan evolusi agar menjadi lebih adaptif (E.H. Schein, 1992:2)
  7. Kepemimpinan adalah proses untuk membuat orang memahami mamfaat bekerja bersama orang lain, sehingga mereka paham dan mau melakukannya (Drath & Paulus, 1994: 4)
  8. Kepemimpinan adalah cara mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan guna mencapai sesuatu (Richards & Eagel, 1986:4)
  9. Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi… (House et. Al, 1999:184)

Dari pengertian di atas terlihat bahwa pengertian tentang kepemimpinan mudah diberikan, akan tetapi sukar untuk benar-benar dipahami. Seseorang dapat disebut pemimpin jika ia dapat mempengaruhi orang lain untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu, meskipun tidak ada ikatan-ikatan yang formal dalam organisasi.

Dengan demikian pengertian kepemimpinan akan timbul dimanapun, asalkan unsur-unsur seperti di bawah ini terpenuhi, yaitu :

1. Adanya orang yang dipengaruhi

2. Adanya orang yang mempengaruhi

3.  Orang yang mempengaruhi mengarahkan kepada tercapainya sesuatu tujuan.

Masalah yang selalu terdapat dalam membahas kepemimpinan adalah hubungan yang melembaga antara pemimpin dan yang dipimpin menurut “rule of the games” yang telah disepakati bersama. Perubahan mengenai salah satu faktor akan dapat mempengaruhi perubahan pada faktor-faktor yang lain.

Kepemimpinan merupakan bakat dan seni tersendiri. Memiliki bakat kepemimpinan berarti menguasai seni atau teknik melakukan tindakan-tindakan seperti teknik memberikan perintah, memberikan teguran, memberikan anjuran, memberikan pengertian, menerima saran, memperkuat identitas kelompok yang dipimpin, memudahkan pendatang baru untuk menyesuaikan diri, menanamkan rasa disiplin dikalangan bawahan serta membasmi isu-isu dan lain sebagainya.

 

2.  Perdebatan tentang Kepemimppinan

Perdebatan tentang kepemimpinan terkait dengan hal-hal sebagai berikut :

a. Apakah kepemimpinan dipandang sebagai peran khusus atau proses pemberian pengaruh bersama ?

     Satu pendapat mengatakan bahwa dalam setiap kelompok terdapat peran khusus yang mencakup peran kepemimpinan, memiliki tanggung jawab dan fungsi yang tidak dapat dibagi-bagi terlalu luas karena dapat membahayakan efektifitas kelompok. Orang yang diharapkan untuk melaksanakan peran kepemimpinan ditunjuk sebagai pemimpin, anggota kelompok yang lain disebut pengikut.

     Pendapat lain mengatakan bahwa, kepemimpinan berdasar proses pemberian pengaruh yang terjadi secara alami pada sistem sosial dan banyak disebarkan kepada anggota. Tidak ada perbedaan anggota dan kelompok.

b. Jenis pengaruh apakah yang digunakan dan bagaimana hasilnya ?

     Kepemimpinan tidak hanya siapa yang menggunakan pengaruh tetapi jenis pengaruh yang digunakan serta hasilnya.

     Beberapa ahli membatasi kepemimpinan dengan penggunaan pengaruh  menghasilkan komitmen yang tinggi dari para pengikut, berlawanan dengan ketidakrelaan atau keengganan untuk mematuhi.

     Pandangan ini berpendapat bila menggunakan kontrol atas penghargaan dan hukuman untuk memanipulasi atau memaksa pengikut, berarti tidaklah pemimpin yang sebenarnya dan menyalahgunakan kekuasaan.

     Pendapat ini tidak disetujui oleh yang lain karena, bila masyarakat yang dipaksa atau dimanipulasi berkomitmen untuk melakukan sesuatu dan itu pilihan terbaik bagi mereka dan organisasi adalah suatu yang wajar, karena walaupun pengaruh sama, tetapi akan memberikan hasil yang berbeda, tergantung pada sifat situasi.

c.  Apa tujuan dan hasil kepemimpinan

     Perdebatan tentang usaha mempengaruhi terkait dengan tujuan dan hasil kepemimpinan.

     Satu pandangan menyatakan bahwa kepemimpinan terjadi hanya ketika orang terpengaruh untuk melakukan yang etis dan bermamfaat bagi organisasi dan dirinya sendiri.

     Yang lain  berpendapat, mencakup semua usaha untuk mempengaruhi sikap dan prilaku para pengikut dalam konteks organisasi dengan mengabaikan tujuan yang dimaksudkan atau penerima mamfaat yang sebenarnya.

d.  Apa yang mendasari pengaruh kepemimpinan

     Defenisi kepemimpinan yang sebelumnya didasari pada proses rasional dan kognitif, namun pada tahun 1980-an beberapa konsep kepemimpinan mengenali pentingnya emosi sebagai dasar memberi pengaruh. Konsepsi terbaru lebih menekankan kepada aspek emosional dari pada penalaran.

e. Apa perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen

     Seseorang bisa jadi pemimpin tanpa harus menjadi manajer (contohnya pemimpin informal), dan seseorang bisa menjadi manajer tanpa harus memimpin (contoh manajer bagian keuangan). Tidak ada yang mengatakan bahwa mengelola dan memimpin adalah ekuivalen, tetapi tingkat tumpang tindih antara keduanya menjadi perdebatan yang sangat tajam.

     Beberapa penulis (Bennis & Nanus, 1985; Zaleznik, 1977) berpendapat bahwa kepemimpinan dan manajemen berbeda secara kualitatif dan saling meniadakan. Beberapa perbedaan yang paling ekstrim melibatkan asumsi bahwa manajemen dan kepemimpinan tidak mungkin terjadi pada satu orang yang sama. Pemimpin dan manajer nilainya saling bertentangan dan berbeda kepribadian.

     Perbedaan manajer dengan pemimpin dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Tabel 1

Perbedaan Manajer dan Pemimpin

Manajer

Pemimpin

1. Menghargai stabilitas, keteraturan dan efisiensi

2. Memperhatikan bagaimana sesuatu diselesaikan dan berusaha membuat orang melakukan dengan baik

3. Melakukan segala sesuatu dengan baik

1. Menghargai fleksibilitas, inovasi dan adaptasi

2. memperhatikan arti berbagai hal bagi orang-orang dan berusaha agar orang menyepakati hal-hal terpenting yang harus dilakukan

3.  Melakukan hal yang benar

 

Menurut Bass, Hickman, KotterMintzberg dan Rost walaupun memandang bahwa memimpin dan mengelola sebagai proses yang berbeda, tetapi mereka tidak berasumsi bahwa pemimpin dan manajer merupakan jenis orang yang berbeda.

Kotter (1990) membedakan antara manajemen dan kepemimpinan dalam hal proses inti dan hasil yang diharapkan. Perbedaan dapat dilihat ada tabel di bawah ini :

Tabel 2

Perbedaan Manajer dan Pemimpin

Manajer

Pemimpin

Membuat perkiraan dan aturan dengan :

1. Menetapkan sasaran operasional, membuat rencana tindakan berda-sarkan jadwal dan mengalokasikan sumber daya

2. Mengorganisasi dan menugaskan (menentukan struktur dan menu-gaskan orang keberbagai pekerjaan)

3. Memantau hasil dan menyelesaikan masalah

Membuat perubahan dalam orga-nisasi dengan:

1. Menyusun visi masa depan dan strategi untuk membbuat per-ubahan yang dibutuhkan

2. Mengkomunikasikan dan menje-laskan visi

3. Memotivasi dan memberi inspirasi kepada orang lain untuk mencapai visi tersebut

 

Persamaannya adalah :

1. Sama melibatkan keputusan apa yang harus dilakukan

2. Menciptakan jaringan hubungan untuk melakukannya

3. Berusaha memastikan hal itu terjadi

Kedua proses itu mempunyai elemen yang bertentangan. Kepemimpinan yang kuat dapat mengacaukan aturan dan efisiensi, sementara manajemen yang kuat dapat menghalangi pengambilan resiko dan inovasi. Kedua proses ini amat dibutuhkan untuk keberhasilan organisasi. Manajemen yang kuat saja hanya akan menciptakan birokrasi tanpa tujuan, tetapi kepemimpinan yang kuat saja dapat membuat perubahan dengan cara yang tidak praktis. Yang penting dan terbaik untuk menyatukannya tergantung pada situasi waktu itu.

Rost mendefinisikan manajemen sebagai hubungan wewenang yang ada antara manajer dengan bawahannya untuk memproduksi atau menjual barang serta jasa. Sedangkan keemimpinan sebagai hubungan pengaruh keberbagai arah antara pemimpin dan bawahannya yang mempunyai tujuan yang sama dalam mencapai perubahan yang sebenarnya.

Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka pengarang buku ini mendefinisikan kepemimpinan dengan :

“ proses untuk mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuu dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama”.

B.   Efektivitas Kepemimpinan

Para ahli berbeda pendapat tentang pemimpin yang efektif. Ukuran yang paling banyak digunakan adalah seberapa jauh unit organisasi pemimpin tersebut adalah : 1)  berhasil menunaikan tugas pencaaian sasarannya. 2) Sikap para pengikut terhadap pemimpin, 3) kontribusi pemimpin pada kualitas proses kelompok yang dirasakan oleh para pengikut atau pengamat dari luar.

Sangat sulit untuk mengevaluasi pemimpin yang efektif, karena terdapat banyak alternatif ukuran efektifitas dan tidak jelas ukuran mana yang paling relevan. Namun ada tiga jenis variabel yang relevan untuk memahami efektifitas kepemimpinan yaitu :

1. Karakteristik pemimpin :

  • Ciri (motivasi, kepribadian, nilai)
  • Keyakinan dan optimisme
  • Ketrampilan dan keahlian
  • Perilaku
  • Integritas dan etika
  • Taktik pengaruh
  • Sifat pengikut
  1. Karakteristik pengikut
  • Ciri (motivasi, kepribadian, nilai)
  • Keyakinan dan optimisme
  • Ketrampilan dan keahlian
  • Sifat dari pemimpinnya
  • Kepercayaan kepada pemimpin
  • Komitmen dan upaya tugas
  • Kepuasan terhadap pemimpin dan pekerjaan

3.  Karakteristik situasi

  • Jenis unit organisasi
  • Besarnya unit organisasi
  • Posisi kekuasaan dan wewenang
  • Struktur dan kerumitan tugas
  • Kesaling tergantungan tugas
  • Keadaan lingkungan yang tidak menentu
  • Ketergantungan eksternal

Sebagian besar teori kepemimpinan lebih menekankan kepada satu kategori tertentu sebagai dasar utama untuk menjelaskan kepemimpinan yang efektif. kebanyakan teori yang dikembangkan pada setengah abad terakhir lebih menekankan kepada karakteristik pemimpin, dan penekanan itu biasanya diterapkan untuk membatasi fokus hanya pada karakter kepemimpinan, yaitu ciri perilaku atau kekuasaan. Oleh karena itu, akan bermamfaat jika menggolongkan teori dan penelitian empiris pada lima pendekatan yaitu : 1) pendekatan ciri, 2) pendekatan perilaku, 3) pendekatan kekuasaan-pengaruh, 4) pendekatan situasional dan 5) pendekatan terpadu.

  1. C.   Level Konseptualisasi Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat  dikonseptualisasikan sebagai : proses intra individu, proses dyadic, proses kelompok, proses organisatoris.

1. Proses intra individu

Teori kepemimpinan yang berfokus ada proses di dalam individu tunggal sangat jarang, karena sebagian besar definisi kepemimpinan melibatkan proses pengaruh antar individu. Walau demikian, sejumlah eneliti menggunakan teori psikologi dalam pembuatan keputusan,  motivasi, dan kesadaran untuk menjelaskan perilaku individual pemimpin. 

  1. Proses dyadic

     Fokus dari pendekatan dyadic adalah pada hubungan antara seorang pemimpin dan individu lain yang biasanya merupakan seorang pengikut. Sebagian besar teori dyadic memandang kepemimpinan sebagai proses pengaruh timbal balik antara pemimpin dengan orang lain.

     Pendekatan ini memiliki asumsi implisit bahwa efektifitas kepemimpinan tidak dapat dipahami tanpa menguji bagaimana pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi setiap waktu.

3. Proses kelompok

     Pandangan lain tentang kepemimpinan sebagai proses kelompok. Dua topik utamanya adalah sifat peran kepemimpinan dalam tugas kelompok dan bagaimana kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kelompok. Teori efektifitas kelompok memberikan pengetahuan yang penting mengenai proses kepemimpinan dan kriteria yang relevan untuk mengevaluasi efektifitas kepemimpinan.

  1. Proses organisasi

     Pendekatan kelompok memberikan pemahaman lebih baik dari pendekatan dyadic atau intra individu tentang efektifitas kepemimpinan, namun dmikian masih mempunyai keterbatasan. Pendekatan kelompok hanya bisa digunakan untuk sistem sosial yang besar dan efektifitasnya tidak dapat dipahami jika fokus dari penelitian itu terbatas hanya pada proses internal kelompok.

     Fungsi esensial kepemimpinan adalah membantu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

  1. D.   Landasan lain untuk membandingkan teori kepemimpinan

Variabel kunci dan level konseptualisasi bukan satu-satunya landasan untuk membandingkan teori kepemimpinan. Ada tiga jenis perbedaan yang biasanya digunakan dalam literatur kepemimpinan yaitu :

  1. 1.  Berfokus pada pemimpin versus berfokus pada pengikut

Sebahagian besar teori lebih menekankan pada karakteristik dan tindakan pemimpin tanpa memperhatikan karakteristik pengikut. Teori yang hanya berfokus pada pemimpin saja atau pengikut saja tidak terlalu berguna bila dibandingkan dengan teori yang lebih seimbang

  1. Teori deskriptif dan preskriptif

     Teori deskriptif menjelaskan tentang proses kepemimpinan, menjelaskan aktivitas pemimpin yang lazim dan menjelaskan mengapa perilaku tertentu terjadi dalam situasi tertentu

     Teori preskriptif membahas apa yang harus dilakukan pemimpin agar menjadi efektif dan mengidentifikasi berbagai kondisi yang dibutuhkan untuk menggunakan jenis perilaku tertentu secara efektif.

  1. Teori universal dan kontinjensi

     Teori universal menjelaskan berbagai aspek kepemimpinan yang diterapkan ppada seluruh jenis situasi. Teori universal bisa saja deskriptif atau preskriptif. Teori universal yang deskriptif  membahas sebagian fungsi yang dilakukan oleh seluruh jenis emimpin hingga batas tertentu, sementara teori universal yang preskriptif membahas seluruh fungsi yang harus dilakukan  pemimpin agar menjadi efektif.

     Teori kontinjensi membahas berbagai aspek kepemimpinan yang diterapkan pada situasi tertentu saja tetapi tidak untuk situasi yang lain. teori ini juga bisa deskriptif atau preskriptif. Teori kontinjensi deskriptif membahas tentang mengapa pemimpin berprilaku  berbeda antara satu situasi dengan situasi lainnya, sementara teori kontenjensi preskriptif membahas prilaku yang paling efektif dalam setiap jenis situasi.

     Perbedaan antara teori universal dan kontinjensi adalah masalah kadarnya bukan masalah dikotomi yang tajam. Beberapa teori berada diantara kedua pendekatan ini.

 BAB III

PENUTUP

 

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Para ahli berbeda memberikan batasan tentang kepemimpinan. Kepemimpinan didefinisikan berdasarkan ciri-ciri, perilaku, pengaruh, pola interaksi, hubungan peran  dan posisi jabatan administratif.

2. Efektifitas kepemimpinan diukur dari seberapa jauh unit organisasi pemimpin tersebut berhasil menunaikan tugas pencapaian sasarannya dan sikap para pengikut terhadap pimpinannya.

 

REFERENSI

 

Maman Ukas. 1999: Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasinya. Pen. Ossa Promo Bandung

 

Sunindhia,YW. Widiyanti,Ninik. 1993: Kepemimpinan dalam Masyarakat Modern. Pen. Rineka Cipta Jakarta. Cet ke dua

 

Yukl. Gary. 2009. Kepemimpinan dalam Organisasi. PT. Indeks Jakarta

 

 



Baca Juga Berita Terkait dengan Artikel ini :